Friday, November 7, 2008

Dalam Layar Kaca

Dalam layar kaca
dalam heningnya malam yang terang
akan neon dan sorot layar
sunyinya mengalahkan hampa
--
Ini kisah dalam diam
Mencari dalam setiap tuts-tuts
kata-kata dan kalimat
sajak-sajak dan cerita-cerita
--
Bukannya cuma diam
hanya otak yang berjalan
keras terjal dalam pilihan
agar tepat satu-satu
--
Agar semua tahu
global juga mengerti
ini untuk sejarah tanpa pena
hanya dalam layar kaca
Aku Mengajakmu berdoa

Tuesday, November 4, 2008

Agar ku Mengerti

Dalamnya makna bagai palung
makin dalam makin sejuk
pelukkannya bagai hangat puding kue
namun tak sepanas salju mentari
--
Berpaling, jangan sampai
cobaan, untuk diriku dan kau?
agar kita mengerti
agar kita pahami
--
Dengan dendangan suara adzan
panggilan zakat dan puasa
agar kita mengerti
dengan cinta dan kasih sayang

Tuesday, October 28, 2008

Ujianku, Banyak loh..

Pertama memang terlihat menarik
kutarik-tarik, malah runyam
saat di urai, malah terburai
saat ku jahit, malah ku bersedih
--
ini ujianku, saat apa?
saat aku delapan belas, kau tujuh belas
saat soal itu tiba, ugghh..
seperti jarum dalam perutku, atau otak yang perih mau pecah,
--
Nmun, ujian juga tak berakhir, saatnya tiba
berakhir, pasti, nanti, kapan?
Saat yang sudah dinanti, di kematian,
hahaha

Friday, October 24, 2008

Senyum, Jangan Tersenyum!

Dia disana
aku juga ada disni, dan disana juga
aku juga ada di balik jaket itu
atau di balik kasir toko
--
Sayangnya aku bukanlah aku
saat sebagian saudaraku seperti mereka
di balik dentuman benda tajam
merogoh ruangan yang penuh denyut kehidupan
--
Tapi aku ada, saat TV itu menyala
Atau dalam koran bola kemenangan
bukan lagi dalam bentuk rasa syukur
yang ada hanya sesaat
--
Aku rindu semuanya
agar semuanya memilikiku
tapi ku tak bisa memaksa, jika saja
kehendak Allah tidak demikian
--
Aku berdoa, agar
aku ada dalam
setiap insan, dan dengan tulus syukur
bukan sesaat yang melupakan
akan nikmat Allah,
Jangan tersenyum!

Wednesday, October 15, 2008

Bujangku Bujangan

Namanya bujang, saat 1 hari yang lalu
bukan lagi seperti dulu, hilang dalam pagi
buta dan dingin juga menangis, seperti bayi yang lahir
bujang namaku, nama hingga saat nanti
--
Kembali dari malam yang dingin, saat itu dan nanti
saat yang yang hujan berlari
dari kejaran mentari pagi
bujang melamun, padahal cucian menumpuk
--
Bujangku bujangan
memang akhirnya bujang, jangan salahkan
karna semua milik Tuhan, Allah, kembali padanya
walau bujang berjanji, dia tak menepati

Monday, October 6, 2008

Senin Siang, 11.30..!?

Senin Siang..
panas ubun-ubun kering
rambut terpanggang, sebentar saja
kulit pun hangus, untung tidak anyir,
seperti bau neraka saja
--
Dalam nyanyian merdu angin
senandungnya picikkan mataku
debu takkalah heroik
masuk merusak mata
kucek-kucek rabun
--
Pertanda makin panas saja
masuk untuk mulai
dinginnya merayap, masuk menggelitik
bukan kulkas, mirip sih..
saatnya tiba
--
tak-tik-tak-tik
cepat sekali, sepertinya, perasaanku
ingin sekali, sekali lagi
sibuknya jari menari
tutsnya bernyanyi riang
--
Sudah saatnya kau lahir
dalam makna untaian isi kepala
sebentar lagi, molor...!?
sudah lebih-melebihi
batas waktuku.. cepat pergi...!?
--
Lahirlah kau sayang..
ungkapan hati dan peri
selamat datang,
senin siang, 11.30

Friday, October 3, 2008

Indahnya Sama-sama

Bukan cerita, bukan sihir
simsalabim jadilah tawa
tidak seperti membalikkan telapak tangan
aku dalam cerita, maya, semu, dingin
ini sebuah cerita
--
Dalam tidur, mimpi indah
ulat, kepompong, kupu-kupu,
tangis, merangkak, berjalan
kemudian berlari, hilang, timbul lagi
ini sebuah cerita
--
Namun tetap satu
dalam gerakan gempita bersama
kelinci berlari dan kura-kura berjalan
sama-sama dalam keharmonisan
bagai bulan dan bumi
--
Topang-menopang agar kokoh
pohon tumbang sendiri, tidak rumput berbaris
sendiri yang malang
kokohnya berbanyak, teratur, menopang
makna indahnya kebersamaan

Thursday, October 2, 2008

Hari ke 2

Saat yang indah pertama kali
sibuknya bagai jarum jam yang berkejaran
hingga bulan pun lelah menemani
bukan saja hal yang indah
menawan mengagumkan
--
Hari ke 2
muncul tenggelam
naik dan turun lagi
seperti sudah usai saja
coba menjalaninya dengan bingung
ini kan hari ke 2?
--
Jangan dan diam
bukan untuk diterawang
untuk dimaknai, dilukis, dicatat
untuk pengingat sikap
ini kan sudah hari ke 2?
besok berakhir
seperti biasa
--
Semoga saja semoga saja
ibu kembali hadir
ayah kembali tersenyum
dalam pelupuk mata mimpi
yang kan hadir dan menemani
tahun depan, tahun kemenangan kembali
ini sudah hari ke 2...

Wednesday, October 1, 2008

Mohon Maaf Lahir Bathin ya..

Takbir berkumandang, terus menyala
saat malam semakin tidur
hingga shubuh terbangun
untuk menunaikan sujud nan suci
--
pagi telah nampak
mengibaskan hangatnya dan eloknya cahaya
bagai ikut menyambut kesucian hari
saat fitri yang tlah dinanti
--
saatnya tiba, ribuan datang
berbondong dari segala urusan
putih-putih, bersih-bersih
turut menjadi satu dalam ritme yang sama
di tempat Allah yang megah
--
Selamat idul Fitri!
sungkem pada yang tercinta
ampun pada yang maha kuasa
semoga saja ku bertemu lagi
kembali di hari suci nan fitri
Selamat Idul Fitri

Tuesday, September 30, 2008

Sudah Waktunya ku Pulang

04.00 gelap dan dingin
bangun untuk mencari arti
dari segala khayal dalam gelap
mata dan hati
kini kembali lagi
disini
--
05.00 gelap dan dingin
namun kehangatan tampak
di ujung tetes air
menggantung di ujung jenggot
basahnya damai
hingga sujud berakhir
--
07.30 sudah merangkak
panas surya merangkak di sela rambut tangan
mencoba menggigit dengan sabar
bangunkan lamunan di sela keramaian
berlari saat itu
waktu mencoba mengejarku
--
09.00 panik menggelayuti
mata mulai melihat yang semestinya
saat waktu mengejar dan terus memaksa
aku tak kuasa, menahan perih dan pedis
saat semua mulai gelap
dalam diam ku melihat mereka tertawa
--
12.00 panggilan sujud datang
tapi aku tetap tak beranjak
dalam diam dalam hati
ku sebut berkali-kali dan memohon
ijinkan lagi bertemu dunia
hingga air di pelupuk mata pun jatuh
--
13.30 sudah saatnya, ku lihat dia
yang bertugas dalam urusan terakhir
nafas satu-satu lepas-lepas
sakitnya di tenggorokan, kemudian
hilang dan sirna, sudah saatnya
sesal tak berguna
sudah waktunya ku pulang

Monday, September 29, 2008

Rencana Besar

Bedug maghrib tiba
menjemput perut yang lama berbunyi
perih, adzan segera bersahut-sahutan
kemudian batalkan ibadah menahan lapar
menuju ibadah malam yang panjang
hingga esok shubuh
--
sidang dibuka
seperti dalam rapat DPR
namun tidak identik
tanpa korupsi, tanpa nepotisme
idealisme yang tinggi
diantara para penuntut cita-cita
dalam keberagaman opini
namun satu dalam tujuan dan arti
--
sesaat namun bangga
walau hanya beberapa jam, dan tahun
membekas dalam hati yang luhur
semoga saja tidak luntur
dalam kepasrahan
dalam keheningan
malam, pagi, dan senja
--
ini harus terlaksana!
teriakan yang membuncah jiwa
yang mengharumkan nama mereka
bukan untuk secuil, seluruh
yang akhirnya kita sepakati
demi kemerdekaan
dalam rencana besar

Malam Terakhir Ramadhan

Pernah terpikir sejenak
tentang megahnya rembulan malam
atau hangatnya pelukan shubuh
semakin larut dalam pikiran
memejam hati yang terbelalak dunia
sirna sekejap timbul lagi
dosa para pendosa
tak ingat akan cahayaNYA
--
sudah hari ke 29
sudah hampir berakhir
suatu ibadah kesunyian yang lapang
rinduan para pendzikir dan pelantun ayat suci
bagai hiasan malam telah hilang
kembali pada kenistaan tiada akhir
berakhir hanya pada mati
dosa para pendosa
tak ingat akan cahayaNYA
--
akhirnya tiba juga
kemenangan telah hadir
namun enggan bagi sebagian insan
membuka dan mengakhiri
bukan takdir, tapi pilihan
atas apa? jangan sebut tak pernah tau
tak perduli, dirimu
sungguh malu, dosa itu
--
bukan akhir saat malam usai
pagi menjelang menjemput suka itu
rangkaian kebahagiaan tumpah dalam satu
hari yang indah
akankah terulang esok waktu?
tanya pada tuhan, kita tak bisa bertanya
bersiap, karna Ramadhan telah berakhir
esok hari, esok hari

Saturday, September 27, 2008

Perjuangan Ananda : Tempuh Cita-cita

Saat ku pada seumur anak manja
"Ibu, aku ingin jadi arsitek"
seakan mata tak melihat
akan dera kerasnya cobaan itu
saat manja dulu
--
"berjuanglah nak, Ibu doakan"
obat hati tentram tak terkira
kini ku lihat itu
semua yang ku katakan
akan ku jalani
kini
--
Apa yang kau lihat?
saat matahari mulai memanaskan bumi yang dingin
akan hati-hati dan pencakar langit yang keji
apa yang kau lihat?
ketakutan dan rasa cemas
akhirnya bagai air dalam daun talas
--
aku harus berjuang
terpatri dalam jiwa yang kusut
tunduk wajahmu
ini awal berjuangan yang sengit
hingga menggigit tulang punggung
aku anandamu ibu
berjuang demi cita

Malam Pertama

bukannya ku tag mampu melihat bintang
gelapnya bukan main
saat ku berlari dengan roda angin
sudah lama aku tak mencium baumu
hangatnya kampung halamanku
--
ku tiba di depan gerbang rumah lama itu
ku ketuk dan ku salami
saat malam pertama ku tiba
dengan peluh lelah keringat dalam hati
dan ku lihat wajahmu
--
Assalamualaikum wr. wb,
kau buka pintu itu, ku terpana sesaat
malam pertamaku
saat itu ku saat rindu padanya
hanya demi rasa cinta
--
kini saat waktu tak mengijinkan tuk tetap
bersama saat yang indah
namun sudah tak lagi kini
aku kembali
--
Juli yang meriah
kepulanganku yang ke 2 kali
akankah seperti malam pertama?
ini adalah cerita
dan aku tetap akan ada
dalam cerita