Tuesday, September 30, 2008

Sudah Waktunya ku Pulang

04.00 gelap dan dingin
bangun untuk mencari arti
dari segala khayal dalam gelap
mata dan hati
kini kembali lagi
disini
--
05.00 gelap dan dingin
namun kehangatan tampak
di ujung tetes air
menggantung di ujung jenggot
basahnya damai
hingga sujud berakhir
--
07.30 sudah merangkak
panas surya merangkak di sela rambut tangan
mencoba menggigit dengan sabar
bangunkan lamunan di sela keramaian
berlari saat itu
waktu mencoba mengejarku
--
09.00 panik menggelayuti
mata mulai melihat yang semestinya
saat waktu mengejar dan terus memaksa
aku tak kuasa, menahan perih dan pedis
saat semua mulai gelap
dalam diam ku melihat mereka tertawa
--
12.00 panggilan sujud datang
tapi aku tetap tak beranjak
dalam diam dalam hati
ku sebut berkali-kali dan memohon
ijinkan lagi bertemu dunia
hingga air di pelupuk mata pun jatuh
--
13.30 sudah saatnya, ku lihat dia
yang bertugas dalam urusan terakhir
nafas satu-satu lepas-lepas
sakitnya di tenggorokan, kemudian
hilang dan sirna, sudah saatnya
sesal tak berguna
sudah waktunya ku pulang

Monday, September 29, 2008

Rencana Besar

Bedug maghrib tiba
menjemput perut yang lama berbunyi
perih, adzan segera bersahut-sahutan
kemudian batalkan ibadah menahan lapar
menuju ibadah malam yang panjang
hingga esok shubuh
--
sidang dibuka
seperti dalam rapat DPR
namun tidak identik
tanpa korupsi, tanpa nepotisme
idealisme yang tinggi
diantara para penuntut cita-cita
dalam keberagaman opini
namun satu dalam tujuan dan arti
--
sesaat namun bangga
walau hanya beberapa jam, dan tahun
membekas dalam hati yang luhur
semoga saja tidak luntur
dalam kepasrahan
dalam keheningan
malam, pagi, dan senja
--
ini harus terlaksana!
teriakan yang membuncah jiwa
yang mengharumkan nama mereka
bukan untuk secuil, seluruh
yang akhirnya kita sepakati
demi kemerdekaan
dalam rencana besar

Malam Terakhir Ramadhan

Pernah terpikir sejenak
tentang megahnya rembulan malam
atau hangatnya pelukan shubuh
semakin larut dalam pikiran
memejam hati yang terbelalak dunia
sirna sekejap timbul lagi
dosa para pendosa
tak ingat akan cahayaNYA
--
sudah hari ke 29
sudah hampir berakhir
suatu ibadah kesunyian yang lapang
rinduan para pendzikir dan pelantun ayat suci
bagai hiasan malam telah hilang
kembali pada kenistaan tiada akhir
berakhir hanya pada mati
dosa para pendosa
tak ingat akan cahayaNYA
--
akhirnya tiba juga
kemenangan telah hadir
namun enggan bagi sebagian insan
membuka dan mengakhiri
bukan takdir, tapi pilihan
atas apa? jangan sebut tak pernah tau
tak perduli, dirimu
sungguh malu, dosa itu
--
bukan akhir saat malam usai
pagi menjelang menjemput suka itu
rangkaian kebahagiaan tumpah dalam satu
hari yang indah
akankah terulang esok waktu?
tanya pada tuhan, kita tak bisa bertanya
bersiap, karna Ramadhan telah berakhir
esok hari, esok hari

Saturday, September 27, 2008

Perjuangan Ananda : Tempuh Cita-cita

Saat ku pada seumur anak manja
"Ibu, aku ingin jadi arsitek"
seakan mata tak melihat
akan dera kerasnya cobaan itu
saat manja dulu
--
"berjuanglah nak, Ibu doakan"
obat hati tentram tak terkira
kini ku lihat itu
semua yang ku katakan
akan ku jalani
kini
--
Apa yang kau lihat?
saat matahari mulai memanaskan bumi yang dingin
akan hati-hati dan pencakar langit yang keji
apa yang kau lihat?
ketakutan dan rasa cemas
akhirnya bagai air dalam daun talas
--
aku harus berjuang
terpatri dalam jiwa yang kusut
tunduk wajahmu
ini awal berjuangan yang sengit
hingga menggigit tulang punggung
aku anandamu ibu
berjuang demi cita

Malam Pertama

bukannya ku tag mampu melihat bintang
gelapnya bukan main
saat ku berlari dengan roda angin
sudah lama aku tak mencium baumu
hangatnya kampung halamanku
--
ku tiba di depan gerbang rumah lama itu
ku ketuk dan ku salami
saat malam pertama ku tiba
dengan peluh lelah keringat dalam hati
dan ku lihat wajahmu
--
Assalamualaikum wr. wb,
kau buka pintu itu, ku terpana sesaat
malam pertamaku
saat itu ku saat rindu padanya
hanya demi rasa cinta
--
kini saat waktu tak mengijinkan tuk tetap
bersama saat yang indah
namun sudah tak lagi kini
aku kembali
--
Juli yang meriah
kepulanganku yang ke 2 kali
akankah seperti malam pertama?
ini adalah cerita
dan aku tetap akan ada
dalam cerita