Beker mulai bersikeras mengetuk
bagian mata luar yang tertutup
penuh kotoran yang lengket melekat
memaksa agar mimpi tak sirna dengan kokokan ayam
namun beker berbicara pada mimpi, “sudah 7.30”
buyar, bahkan lari tak bertepi
sudah, sudahlah, ini sudah terlambat
kancing tersempal, dengan rontokan belaian rambut ini
bukan lagi pertama kali, ntah suda ke kayuh
terjepit dalam suasana memanas, tapi bukan mentari
uap-uap hitam sesak, bahkan mengaburkan pandangan
dalam antrian berebut waktu, yang tak pernah merasa
antri dalam lampu-lampu pengatur, yang tak lelah
mengatur hidup yang belum berujung, pasti sampai
tetap saja, bergumul dengan angin, tetap saja
terlambat, sudah terlambat, 8.00
Beker mengetuk kembali, kali ini lebih dari seribu
waktu tak pernah lari, salah siapa?
mimpi kali ini bersetubuh, dengan nyata
kenapa begitu samar, bahkan burung camar duduk
di sebelah ranjang yang mulai memutih
saat ku sadari, pagi sudah terlambat
jangan mengada-ada, pagi selalu disini
bersama untaian gemerlap mentari
jangan-jangan? aku terlambat?
hah,, kali ini, aku benar-benar terlambat
tepat di 7.30 pagi, dan tak pernah kembali
pagi ini, sudah terlambat


No comments:
Post a Comment